Yanti Graito, Sosok Dibalik Hymne WKRI

Jika ada diantara kita agak sulit menggambarkan seperti apa seharusnya tipe ideal bagi seorang Wanita Katolik RI, mungkin akan lebih mudah jika kita sebut saja, “Itu lho seperti ibu Yanti Graito.” 

Mengapa demikian? Dari tutur kata, pemahaman yang mendalam tentang organisasi, kesetiaan dalam iman Katolik, penampilan yang senantiasa rapih, loyal terhadap Wanita Katolik RI, seorang ibu yang lembut namun ulet (mengingat sang suami dipanggil Tuhan dalam usia relatif muda dan Yanti sang dosen perlu menjadi single parent terlampau dini)

Di usianya yang sudah memasuki angka 68 tahun, Bernardine Kusumo Indarwahyanti Graito atau yang lebih dikenal sebagai Yanti Graito ini masih terlihat sangat bugar, cantik dan anggun serta masih aktif di berbagai kegiatan, terutama di organisasi Wanita Katolik RI. Sebagai Penasihat Organisasi di DPP, Yanti  sangat setia mendampingi para pengurus DPP dan selalu memberikan wejangan dan arahan. Di berbagai kesempatan, misalnya dalam acara kaderisasi atau event nasional yang diselenggarakan DPP, beliau sering mengingatkan pentingnya roh atau spiritualitas Wanita Katolik RI kepada seluruh peserta.

Selesai Rapat Pleno Pengurus DPP bulan Oktober lalu, kami tim KONTAK meminta waktu kepada ibu yang lahir di Yogyakarta tanggal 29 Februari 1948 ini untuk sekadar berbincang mengenai beberapa hal. Dengan ramah Yanti Graito bercerita bahwa sejak sekolah telah tertarik berorganisasi. Penikmat kopi hitam ini telah aktif sejak menimba ilmu di SMP Marsudirini dan SMA Fons Vitae. Pertama kali tertarik dengan Wanita Katolik RI karena ibunda beliau Valesca Soetandar adalah aktivis Wanita Katolik RI sejak awal berdirinya.

Salah satu dari kelompok ibu-ibu muda siswi dan ex-siswi Mendut yang mendirikan Wanita Katolik RI di Gereja Kidul Loji, Yogyakarta saat itu dengan nama Poesara Wanita Katolik. Menjadi Ketua Presidium DPP dari tahun 1956-1963. Ayahanda  Yanti Graito aktif di Persatuan Guru Katolik (PGK) sedangkan suami Ignatius Graito aktivis Pemuda Katolik.

Jadi lingkungannya sudah merupakan komunitas aktivis organisasi. Namun Yanti Graito benar-benar terjun di organisasi Wanita Katolik RI pada tahun 1978. Beliau menjadi Ketua Cabang Fransiskus Asisi Tebet, 10 bulan kemudian terpilih menjadi Ketua Presidium DPD Jakarta selama 2 periode tahun 1978 – 1981 dan tahun 1981 – 1984. Berikutnya menapak menjadi Ketua Bidang Organisasi DPP tahun 1984-1988 dan  Ketua Presidium DPP tahun 1989 -1993 dan periode ke-2 tahun 1993-1999.

Lahirnya Hymne WKRI

Menghadapi penyelenggaraan Kongres XIV tahun 1988,  Yanti Graito sebagai Ketua Bidang Organisasi DPD Jakarta, ditunjuk menjadi Ketua Panitia Pelaksana Kongres.  Dalam rangka persiapan Kongres, dan saat itu Wanita Katolik RI menapak usia ke-64, muncul gagasan untuk menciptakan Hymne Wanita Katolik RI sebagai ungkapan rasa syukur atas penyertaan Yang Maha Kasih dalam perjalanan Wanita Katolik RI. Pemikiran sederhana dari gagasannya, adalah supaya Mars Wanita Katolik RI yang menguatkan daya gerak organisasi, dilengkapi dengan madah syukur atas penyertaaan-NYA.   

Mars karya bapak RAJ Sudjasmin pada tahun 1961 menunjukkan identitas (apa, siapa) dan bagaimana, dimana, perjuangan Wanita Katolik RI. Lirik lagu Mars menegaskan bahwa Wanita Katolik RI adalah wadah yang menghimpun dan menyatukan gerak untuk membangun dunia tentram sentosa jiwa dan raga. Kehadiran Wanita Katolik RI mengandung makna bahwa perempuan Katolik yang berhimpun harus memiliki sikap tegar, tangguh, dan organisasi harus tetap eksis dan tumbuh. Oleh sebab itu lagu dibawakan dengan tegap, penuh semangat, serta ‘irama hentakan’ yang menguatkan daya gerak.

Hymne merupakan ungkapan syukur bahwa seluruh langkah sebagai wujud tugas perutusan dapat dilalui karena  penyertaan-NYA. Kesadaran bahwa tugas perutusan tidak mudah, dan untuk itu senantiasa mohon terang budi dan keteguhan iman agar mampu bersikap dan bertindak bijaksana. Oleh sebab itu, dalam suasana batin  yang penuh rasa syukur, Hymne dinyanyikan dengan sikap anggun, menunjukkan keyakinan serta kesiapan untuk terus berkarya, dengan ritme sedang (tidak terlalu cepat atau lambat).   

Penulisan lagu dan lirik hymne dilakukan dalam waktu tidak lama. Aransemen lagu disusun  oleh Bapak Harry Haryadi seorang musikus penggubah lagu-lagu diantaranya lagu gerejani. Dalam acara pembukaan Kongres XIV 1988 yang dihadiri ibu Negara, kala itu ibu Tien Soeharto, Mars dan Hymne Wanita Katolik RI dikumandangkan dengan iringan orchestra, dan kondaktor Ignatius Abimanjoe Soedarwo.

Saat ditanya mengenai harapan untuk generasi Wanita Katolik RI kedepan, Yanti yang masih aktif sebagai dosen Fakultas Psikologi UI bercerita bahwa saat ibu F. Siti Rabini Doeriat (Ketua Presidium DPP 1984-1988) meninggal dunia, Yanti melepas kepergian ibu F.Doeriat dengan mengatakan bahwa saat itu adalah awal  Wanita Katolik RI memasuki era regenerasi kepemimpinan setidaknya pada tingkat DPP. Era masuknya generasi penerus atau generasi ke-dua, dari para ibu eks-siswi Mendut. Pertanda masuknya generasi yang nantinya sejumlah besar anggota kurang  mengenal,  memahami, meresapi nilai-nilai asali dan esensi perjuangan Wanita Katolik RI yang di inspirasi pendidikan sekolah Mendut.  

Wanita Katolik RI berjalan terus, pemekaran wilayah makin luas, diisi oleh para generasi penerus. Harapan Yanti Roh Wanita Katolik RI jangan sampai luntur, melainkan harus terus menerus tertanam dan dihayati seiring perkembangan jaman. Pengutamaan prinsip Solidaritas dan Subsidiaritas sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan berorganisasi, sikap Asih Asah Asuh, sebagai landasan semangat perutusan, harus tetap tumbuh pada setiap pribadi anggota. Pemahaman dan pemaknaan AD-ART yang mengatur penataan dan pengelolaan, juga  pemecahan masalah organisasi, harus sungguh dikuatkan agar benar di dalam menerapkannya.

Perlu diyakini bahwa Organisasi Wanita Katolik RI adalah sekolah kehidupan yang menempa seluruh anggota untuk mampu bersikap bijaksana menghadapi berbagai persoalan. Tempat belajar untuk menajamkan kepekaan, keperdulian untuk berbagi, berbela rasa, melayani, memberi kebahagiaan kepada orang lain. Wadah kesatuan gerak yang membentuk sikap disiplin dan tetap menjaga etika dalam berorganisasi. Tempat uji kemampuan bekerja secara profesional dan bertanggung jawab dalam menerima dan menjalankan tugas, baik dalam organisasi Wanita Katolik RI maupun dalam lingkup organisasi/lembaga/institusi lain.

Bicara tentang kepemimpinan, sesungguhnya seluruh anggota punya talenta untuk menjadi pemimpin. Karenanya perlu kita sadari bahwa posisi sebagai pimpinan Wanita Katolik RI di setiap tingkat bukanlah pencapaian suatu karir, mendapat kewenangan atau  keberhasilan meraih suatu status sosial. Terpilihnya sebagai pimpinan adalah mendapat limpah kepercayaan, yang mengandung arti berkewajiban membuktikan bahwa patut dan layak dipercaya. Mengemban tanggung jawab untuk menjadi sosok teladan dalam menerapkan prinsip serta nilai-nilai yang dijunjung organisasi. Menyandang tugas menggerakkan dan memberdayakan seluruh jajaran agar mampu menjalankan karya-karya pengabdian demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahtera dan berkualitas. Semoga harapan menjadi kenyataan. Semoga dari waktu ke waktu Wanita Katolik RI semakin maju dan berkembang. (Wiwied/Mathilda/Diah)

Catatan : CD lagu Mars dan Hymne dapat dibeli, tersedia di Sekretariat DPP Wanita Katolik RI

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *