Search
Close this search box.

Saudara saudari terkasih, para Wanita Katolik Republik Indonesia, bersama dengan Romo Koko dan para bapak yang hadir di sini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke 99. Saya diminta ke sini sebetulnya supaya melihat aula ini. Presidium audiensi, Monsinyur datang dong, lihat, kami baru diperbarui. Ya, nanti kapan-kapan. Kapan-kapan tapi tidak pernah ke sini. Maka caranya misa. Supaya ke sini dan aulanya bagus ya. Luar biasa, lebih bagus daripada punya KWI. Profisiat para WKRI, presidium yang telah merenovasi sebagai sarana yang luar biasa.

Saudara-saudara terkasiih, salah satu persoalan dalam organisasi di mana pun, adalah kurangnya mawas diri antara para anggota. Tak jarang ada pikiran dan prasangka negatif juga kepada sesama anggota. Yang meragukan fungsi siapa yang berwenang, siapa yang menjadi pimpinan, mengatur dan mengarahkan. Maka kegagalan-kegagalan organisasi-organisasi besar, international, nasional, regional adalah adanya bos bos kecil yang bukan bos tapi berlagak bos. Ada presidium-presidium di tempat-tempat yang semestinya tidak ada presidium. Di mana-mana, di WK tidak ada tapi di mana – mana. Kenapa ketawa, memang ada? Tidak ada khan? Itu biasa. Bahkan, jangankan organisasi masa seperti ini, di lingkungan gereja juga, di kongregasi, di paroki, itu bisa terjadi ketidakharnomisan, karena itu. Munculnya bos-bos kecil yang tidak punya wewenang. Tetapi sepertinya punya wewenang. Tidak dipercaya, sepertinya mendapat kepercayaan penuh dari banyak orang. Dan itu yang paling sering terjadi. Hingga orang pun bisa menuntut apa yang menjadi tanggung jawab, tugas dan wewenangnya, dan itu terjadi di beberapa tempat.

Saudara saudari yang terkasih, menuntut orang lain lebih mudah daripada meminta diri sendiri untuk berbuat sesuatu. Mengatur orang lain itu lebih biasa, daripada menata diri sendiri. Demikian pun mencari kelemahan sesama lebih cepat daripada mawas diri menemukan kesalahan pribadi. Maka lihat, ibu-ibu ini sudah bagus-bagus khan, ditata, dirias, ya betul khan bu. Luar biasa. Coba lihat, periasnya tidak sebagus ibu khan? Bisa merias, tidak tampil, karena merias. Nah lebh mudah kita itu seperti berbuat kepada orang lain. Maka mencari kekurangan sesama lebih spontan daripada mengoreksi diri sendiri. Lebih cepat kita ini. Injil hari ini, saya lebih suka misa di mana pun pakai bacaan hari itu. Karena apa? Ulang tahun WK ke 99 itu hari ini dan Injilnya sudah disediakan tidak usah diganti-ganti. Sudah disediakan, Tuhan mau bersabda kepada kita apa, pas bagus ,mudah-mudahan. Saya tidak tahu, tapi biasanya begitu.

Maka Injil hari ini mengajak kita mawas diri. Bagaimana kita mau membuat orang lain maju, kata Injil hari ini, Yesus: ‘selama masih ada balok menghalangi tidak mungkin kita melihat selumbar kecil pada mata organisasi lain, pada mata bangsa Indonesia, pada mata gereja, kalau kita tidak mengeluarkan balok terlebih dahulu di dalam diri kita’. Maka Injil hari ini mengajak kita untuk mengatasi bagaimana kita mengatasi kekurangan pribadi, menyingkirkannya dan mempergunakannya untuk memperbaiki diri guna membantu sesama dengan lebih efektif dan lebih efisien. Tak mungkin orang yang matanya terhalang balok, akan dengan mudah menyingkirkan selumbar pada mata orang lain. Jangan sampai ketika mengeluarkan justru mencolok matanya dan membuat luka mata orang lain.

Saudara-saudara yang terkasih, ada dalam suatu persekutuan doa, sebelum puji-pujian seorang ibu mengingatkan umat untuk mematikan handphone. Dan ia berkata, saudara-saudari tolong matikan handphone, seringkali mengganggu ibadat kita. Di silent kalau tidak mau dimatikan. Getar, silent karena sering kita beberapa kali, sedang ibadat, puji-pujian, kring gitu ya, panggilan dari Allah. Orang nengok sana-sini. Ya itu sering kali jadi terus, pembawa acara ini mengingatkan tolong priksa sekali lagi matikan. Dan memang otoritas orang ini luar biasa di pertemuan ini dikelompok itu, keras sekali. Orang pada diem. Baru ia ngomong, bunyi kring. Nah itu, baru saya omong sudah bunyi lagi kring. Matikan, semua pada diam. Matikan. Bunyi terus. Itu, lalu ketahuan bunyinya di situ. Bapak-bapak Handoyo, matikan. Ia berkata, maaf bu, itu bunyinya dari tas ibu. Dia sendiri belum mematikan. Ia mengatakan matika, ia sendiri belum mematikan. Jadi bagaimana kita bisa mengajak orang mematikan, kalau kita sendiri tidak mematikan. Selama masa prapaska khan ada Alleluya tidak boleh dinyanyikan. Kami waktu itu para frater. Lalu ada imam yang berkata, para frater doa completorium, ingat, Alleluya tidak dinyanyikan. Baru pembukaan Allah beserta kita, lalu dia bilang Alleluya sendiri. Aduh lupa. Kita bisa lupa, tidak apa-apa, tapi bagaimana kita jangan menghakimi orang lain dan jangan mempersalalhkan orang lain karena juga bisa salah. Mengingatkan orang lain, saling mengingatkan baik, tapi saling menyalahkan, menuduh serta berpretensi itu lah yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Saudara-saudara yang terkasih, orang-orang Farisi dan ahli taurat rupanya suka mencari-cari kelemahan orang lain, untuk menyembunyikan kekurangannya. Mereka cenderung mengamat-amati kedosaan sesamanya, agar tampak saleh. Mereka suka menggurui masyarakat seolah-olah mereka adalah serba tahu, kaum terdidik, golongan kudus. Yesus mellihat kebutaan mereka akan kerajaan Allah karena tertutup balok kesombongan hingga tidak melihat siapakah Yesus yang ada di hadapannya. Yang sesungguhnya adalah Mesias yang mereka ajarkan, yang mereka nantikan, yang mereka harapkan. Mesias sendiri ada di hadapannya, mereka tidak bisa melihatnya karena balok menghalanginya. Bagaimana orang yang tidak bisa melihat karena matanya terhalang balok kelemahan dapat dengan mudah membantu sesamanya mengatasi kekurangan. Yesus meminta mereka pertama tama untuk mengambil balok yang ada pada mata mereka, sebelum menyingkirkan selumbar yang ada pada mata orang lain. Yesus menuntut mereka yang munafik untuk melek, terlebih dahulu agar tahu jalan yang benar agar tak memberi tahu orang lain jalan yang keliru.

Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah berjalan dalam kebenaran memberi tahu jalan yang benar. Tidak mungkin . Bertobat dulu, sebelum mengajak orang lain bertobat. Mereka terlalu mudah menghakimi dengan mencaci maki orang lain. Sementara mereka tak mau bermawas diri terbuka pada bimbingan roh Illahi yang selalu mengajak kita memperbaiki diri. Saudara-saudari yang terkasih, ada pepatah, bagai padi makin berisi, makin merunduk. Demikian juga makin orang kudus, makin orang rendah hati. Makin orang berjabatan tinggi, makin ia bisa bertenggang rasa. Makin ia berilmu tinggi makin ia rendah hati. Mengajak kita untuk rendah hati dan mawas diri. Maka makin kita berilmu tinggi, bermoral matang, beriman yang dalam, kita makin rendah hati.
Makin kita berposisi tinggi, kita makin membumi. Makin kita berelasi luas, kita bertenggang rasa. Namun masih ada orang yang meningkat statusnya tapi hidupnya kian sombong, sok benar, sok pintar dan sok suci. Injil hari ini mengkritik orang farisi atau imam-imam besar karena mereka itu sok benar, sok pintar dan sok suci. Ia tidak mau ditegur tapi lebih suka usul. Seolah pikirannya yang paling bagus dan suka menegur orang seakan dirinya paling benar.

Saudara saudari yang terkasih, di sana ada bagus sekali. Ada foto mbok, simbok Ini ada beberapa simbok juga. Bagus ya presidium pakai simbok itu. Di sana ditulis itu. Kata Yesus tadi berkata begini:’Jangan sok benar, jangan sok pintar, jangan sok suci, jadilah seperti simbok’.Iya bagus, persisi. Yang berlawanan dengan apa yang dikritik oleh Yesus itu. Jadi lah seorang seperti simbok, sederhana, rendah hati tapi ingat surga adaa di bawah telapak kaki simbok. Betul khan, luar biasa. Karena kita memiliki keutamaan, karena ia hidup benar, karena ia hidup arif menurut kebijaksanaan lokal sehingga pintar dalam kebudayaannnya dan ia hidup suci.

Maka tak salah kalau di Yogya itu ada Mbok Turah, Romo Sindhu, di komplek Romo Sindhu, saya dibawa ke sana, ke Romo Sindhu. Dijelaskan tentang patung Maria yang diberi nama Mbok Turah. Artinya siibu lebih berlimpah. Maka orang-orang yang bukan beragama katolik pun datang ke si mbok, mbok Turah ini, berdoa, mempersembahkan sesuatu karena merasa mendapat rahmat dari Mbok Turah. Maka bayangkan kalau WKRI seluruh Indonesia ini tumbuh menjadi Mbok Turah, seperti Maria yang sungguh-sungguh tidak sok benar, tidak sok suci, tapi tampil seperti mbok, Mbok Turah ini. Mudah-mudahan nanti refleksi hari ini juga mengantar para saudari WKRI ke 100 tahun, umurnya sama dengan KWI. KWI tahun depan 100 tahun, sama tapi duluan KWI. Harusnya WKRI duluan ya. Khan dari si mbok lahir itu ya. Betul gak ya, tapi rupanya malaikat yang memebri tahu duluan. Malaikat Gabriel. Jadi lahir

Dalam kerangka kongres, renungan hari inil kalau tiap orang mawas diri, tidak sook benar, sok pintar. Kadang-kadang saya juga prihatin dalam organisasi yang disebut katolik, yang dibungkus dengan nama katolik itu berat. Sebetulnya berat, kalau Anda namanya katolik dan di Indonesia berat. Tuntutannnya berat daripada organsasi biasa. Dan katolik berat, karena ada tuntutan-tuntutan sendiri. Maka kalalu terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai- bilai katolik sayang ya. Sejak awal musyawarah selalu ada. Nanti di kongres ada pemilihan presidium ya, mudah-mudahan lancar. Pada umumnya orang itu tidak ingin menjadi ketua., karena mengandung amanah Tetapi kadang-kadang ada para pendukung ketua tertentu, yang sering kali itu memecah belah. Saya tidak tahu di sini. Saya berbicara di tempat lain ya. Tidak tahu ya, di tempat lain ya. Kalau ada masa-masa itu baru diomongin. Belum pernah terdengar. Presidium kemarin tidak pernah bicara apa-apa, berbicara yang baik-baik mengenai proyeksi 100 tahun. Tapi hanya mengatakan, itu kalau terjadi, itu yang sering tidak jalan. Si A mendukung kelompok B, Golongan B mendukung B, golonganC mendukung si C.

Padahal calon-calon nya ini pasrah, tapi ini, presidium-presidium kecilnya ini, belum jadi presidium sudah seperti presidium. Yang menentukan, king makers-king makersnya semua. Nah hari ini sebetulnya mawas diri ya. Ini bagus sekali ya. Percaya saja, kalau Tuhan menghendaki apa pun yang terjadi. Jangan pernah seorang pun menolak amanah yang kita tidak mau. Justru kalau kita berambisi, kit a berkata-kata pada Tuhan, Tuhan saya berambisi, jangan pilih saya, murnikan dulu diri saya, supaya saya bisa melayani. Tapi kalau ada orang yang tidak diduga dipilih. Jangan, jangan sampai kita ini berkelahi Ndak mau, ndak mau, ndak mau, gitu ya. Kalau ditawari masuk surga, ndak mau juga? Simbok. Surga di bawah kaki simbok. Ini khan jadi simbok mau ndak memimpin jadi simbok, Jadi ini tema, bagaimana kita bisa membawa kesejahteraan, kalau kita sendiri sejahtera, Saya selallu kepada para imam saya mengatakan untuk bisa memimpin paroki, untuk bisa menjadi gembala yang baik, pertama tama lihatlah kamar tidur para romo. Apakah rapih atau tidak, tertata atau tidak. Kalau tidak, bagaimana kita menata orang lain? Bagaimana kita umat, bagaimana kita bisa menata paroki. Demikianlah tantangan kita sebagai pemimpin pemimpin. Menata rumah sendiri, menata kamar sendiri, baru kita bisa menata orang lain.

Saudara-saudara yang terkasih, mari kita menyadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan hingga kita mau dan mampu mengikuti bimbingan roh kudus dengan mendengarkan yang berkompeten dan berkapasitas di bidangnya. Kita bukan orang yang segala tahu semua hal tetapi ada orang-orang tertentu yang mempunya kapasitas dan berkompetensi tertentu yang bisa menolong kita. Jangan sampai kita merasa benar karena sudah bisa dan sudah terbiasa melakukan.sesuatu padahal mungkin tidak membawa kesejahteraan banyak orang yang seperti yang diharapkan. Mari kita mawas diri yaitu dengan rendah hati menyadari kelemahan sendiri agar tidak mudah menuduh. Semoga dengan mawas diri ini WKRI menjadi teladan organisasi yang baik, benar dan kudus sesuai dengan namanya katolik, makin kristiani, Republik Indonesia, makin Pancasilais, semoga demikian. Dengan demikian, melalui organisasi wanita katolik republik Indonesia, para ibu Indonesia, makin katolik, dan makin Indonesia. Amin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jika membutuhkan konten ini, silahkan menghubungi info@dppwkri.org